Follow Us

ads

Home » » VITAMIN (Makalah)

VITAMIN (Makalah)

Posted by Materi Seputar Kedokteran on Saturday, November 10, 2018


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Vitamin merupakan substansi yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh dan berkembang secara normal. Vitamin biasanya tidak bisa diproduksi oleh tubuh, sehingga harus mendapat asupan dari luar. Vitamin memiliki peranan spesifik di dalam tubuh dan dapat memberikan manfaat kesehatan. Bila kadar senyawa ini tidak mencukupi, tubuh dapat mengalami suatu penyakit.Tubuh hanya memerlukan vitamin dalam jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan ini diabaikan maka metabolisme di dalam tubuh kita akan terganggu karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain (Anonim, 2011).
            Vitamin merupakan komponen organik yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Vitamin dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit. Vitamin termasuk kelompok zat pengatur pertumbuhan dan pemeliharaan kehidupan. Vitamin berperan dalam beberapa tahap reaksi metabolis, energi, pertumbuhan, dan pemeliharaan tubuh, pada umumnya sebagai koenzim atau sebagai bagian dari enzim.  Kontribusi suatu jenis makanan terhadap kandungan vitamin makanan sehari-hari bergantung pada jumlah vitamin yang semula tedapat dalam makanan tersebut, jumlah yang rusak pada saat panen atau penyembelihan, penyimpanan, pemrosesan dan pemasakan (Almatsier, Tanpa tahun).
Atas dasar kelarutannya, vitamin dibedakan menjadi 2, yaitu:
1.      Vitamin larut dalam lemak (A, D, E, K), dan
2.      Vitamin larut dalam air (B dan C).
Vitamin yang larut dalam air, jika jumlahnya berlebihan tidak membahayakan karena kelebihan vitamin akan dikeluarkan melalui urine. Tetapi bila vitamin yang larut dalam lemak jumlahnya berlebihan, tidak dapat dikeluarkan melalui urine tetapi disimpan dalam sel-sel adiposa dan dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh.

1.2  Tujuan
Tujuan pembutan makalh ini adalah untuk memberikan informasi tentang beberapa hal yang berkaitan dengan vitamin, baik yang larut dalam air maupun yang larut dalam lemak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Secara garis besar, vitamin dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. Hanya terdapat 2 vitamin yang larut dalam air, yaitu B dan C, sedangkan vitamin lainnya, yaitu vitamin A, D, E, dan K bersifat larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan di dalam jaringan adiposa (lemak) dan di dalam hati. Vitamin ini kemudian akan dikeluarkan dan diedarkan ke seluruh tubuh saat dibutuhkan. Beberapa jenis vitamin hanya dapat disimpan beberapa hari saja di dalam tubuh, sedangkan jenis vitamin lain dapat bertahan hingga 6 bulan lamanya di dalam tubuh.
Jenis vitamin berdasarkan kelarutannya ada dua macam, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam air hanya ada dua yaitu Vitamin B dan C. Sedangkan vitamin A, D, E, dan K merupakan vitamin larut dalam lemak. Cara kerja vitamin yang larut dalam lemak dan yang larut dalam air berbeda. Vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan di dalam jaringan adiposa (lemak) dan di dalam hati. Vitamin ini kemudian akan dikeluarkan dan diedarkan ke seluruh tubuh saat dibutuhkan. Beberapa jenis vitamin hanya dapat disimpan beberapa hari saja di dalam tubuh, sedangkan jenis vitamin lain dapat bertahan hingga 6 bulan lamanya di dalam tubuh. Berbeda dengan vitamin yang larut dalam lemak, jenis vitamin larut dalam air hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera dibuang tubuh bersama urin. Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan asupan vitamin larut air secara terus-menerus (Anonim, 2010). Vitamin yang terkandung di dalam susu sapi diantaranya vitamin A 130 SI, vitamin B1 0,3 mg/100 gr, dan vitamin C 1mg/100 gr (Suharyanto, 2009).
Berbeda dengan vitamin yang larut dalam lemak, jenis vitamin larut dalam air hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera dibuang tubuh bersama urin. Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan asupan vitamin larut air secara terus-menerus.
Vitamin merupakan nutrien organik yang dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk berbagai fungsi biokimiawi dan yang umumnya tidak disintesis oleh tubuh sehingga harus dipasok dari makanan. Vitamin yang pertama kali ditemukan adalah vitamin A dan B , dan ternyata masing-masing larut dalam lemak dan larut dalam air.Kemudian ditemukan lagi vitamin-vitamin yang lain yang juga bersifat larut dalam lemak atau larut dalam air.Sifat larut dalam lemak atau larut dalam air dipakai sebagai dasar klasifikasi vitamin.Vitamin yang larut dalam air ,seluruhnya diberi symbol anggota B kompleks ( kecuali vitamin C ) dan vitamin larut dalam lemak yang baru ditemukan diberi symbol menurut abjad (vitamin A,D,E,K ).Vitamin yang larut dalam air tidak pernah dalam keadaan toksisitas di dalam tubuh karena kelebihan vitamin ini akan dikeluarkan melalui urin (Rusdiana, 2004).
Jenis vitamin berdasarkan kelarutannya ada dua macam, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam air hanya ada dua yaitu Vitamin B dan C. Sedangkan vitamin A, D, E, dan K, mereka larut dalam lemak. (Anonim, 2010)

 BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Vitamin A
Vitamin A, yang juga dikenal dengan nama retinol, merupakan vitamin yang berperan dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik, terutama di malam hari, dan sebagai salah satu komponen penyusun pigmen mata di retina. Vitamin A berguna untuk penglihatan, melindungi kulit dan lapisan mukosa (mulut, hidung dan sistem pencernaan). Vitamin A dikenal sebagai vitamin yang sangat dibutukkan tubuh dan mutlak harus dipenuhi melalui makanan. Pada umunnya vitamin A dikonsumsi dalam bentuk pre form vitamin A dan pro vitamin A. Di Indonesia 80% konsumsi vitamin A berasal dari karoten dan 20% dari makanan hewani maupun pre form vitamin A. Vitamin A beredar dalam darah dan disimpan dalam hati. Berdasarkan hasil percobaan, klinis pada manusia dan hewan menunjukkan bahwa vitamin A diperlukan untuk pemeliharaan dan fungsi normal sistem kekebalan dan jaringan epitel.

3.1.1 Fungsi Vitamin A
Secara garis besar, fungsi vitamin A adalah sebagai berikut:
1.      Proses penglihatan. Vitamin A dalam bentuk retinal akan bergabung dengan opsin (suatu protein) membentuk rhodopsin, yang merupakan pigmen penglihatan. Adanya rhodopsin itulah yang memungkinkan kita dapat melihat. Rendahnya konsumsi menyebabkan menurunnya simpanan vitamin A di dalam hati dan kadarnya di dalam darah. Akibat lebih lanjut adalah berkurangnya vitamin A yang tersedia untuk retina.
2.      Mengatur sistem kekebalan tubuh (imunitas). Sistem kekebalan membantu mencegah atau melawan infeksi dengan cara membuat sel darah putih yang dapat menghancurkan berbagai bakteri dan virus berbahaya. Vitamin A dapat membantu limfosit (salah satu tipe sel darah putih) untuk berfungsi lebih efektif dalam melawan infeksi.
3.      Mencegah kebutaan. Defisiensi vitamin A menyebabkan kelenjar tidak mampu mengeluarkan air mata, sehingga film yang menutupi kornea mengering. Selanjutnya kornea mengalami keratinisasi dan pengelupasan, sehingga menjadi pecah. Infeksi tersebut menyebabkan mata mengeluarkan nanah dan darah. Dampak lebih lanjut adalah munculnya titik bitot (putih pada bagian hitam mata) serta terjadi gangguan yang disebut xerosis conjunctiva, xerophthalmia, dan buta permanen.
4.      Menangkal radikal bebas. Vitamin A dan betakaroten terbukti merupakan antioksidan yang dapat melindungi sel dari serangan radikal bebas untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit kronis, seperti jantung dan kanker.
5.      Memicu pertumbuhan. Defisiensi vitamin A menyebabkan terhambatnya pertumbuhan karena gangguan pada sintesis protein. Gejala ini sering tampak pada anak balita. Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan bahwa proses pertumbuhan akan terhenti jika kebutuhan vitamin A tidak terpenuhi.
6.      Memelihara kesehatan sel-sel epitel pada saluran pernapasan. Defisiensi atau kekurangan vitamin A menyebabkan sel-sel epitel tidak mampu mengeluarkan mucus (lendir) dan membentuk cilia (semacam rambut) untuk mencegah akumulasi bahan asing pada permukaan sel. Karena itu, defisiensi vitamin A dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA).
7.      Membentuk dan memelihara pertumbuhan tulang dan gigi. Defisiensi vitamin A terbukti dapat menghambat pemanjangan tulang dan terbentuknya gigi yang sehat. Karena itu, kecukupan konsumsi vitamin A sangat penting diperhatikan untuk anak-anak yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan.
8.      Memelihara kesehatan kulit dan rambut. Defisiensi vitamin A dapat menyebabkan kulit dan rambut menjadi kasar dan kering.
9.      Mendukung proses reproduksi. Vitamin A diperlukan dalam produktivitas hormon steroid (hormon seks) dan proses spermatogenesis (pembentukan sel sperma) yang sangat vital dalam proses pembuahan sel telur untuk menghasilkan keturunan. Karena itu, defisiensi vitamin A menyebabkan kemandulan. (Anonim, 2008).

3.1.2 Sumber Vitamin A
Sumber vitamin A dapat dibedakan atas preformed vitamin A (vitamin A bentuk jadi) dan provitamin A (bahan baku vitamin A). Vitamin A bentuk jadi atau retinol bersumber dari pangan hewani, seperti daging, susu dan olahannya (mentega dan keju), kuning telur, hati ternak dan ikan, minyak ikan (cod, halibut, hiu). Provitamin A atau korotenoid umumnya bersumber pada sayuran berdaun hijau gelap (bayam, singkong, sawi hijau), wortel, waluh (labu parang), ubi jalar kuning atau merah, buah-buahan berwarna kuning (pepaya, mangga, apricot, peach), serta minyak sawit merah. Betakaroten merupakan provitamin A yang paling efektif diubah oleh tubuh menjadi retinol (bentuk aktif vitamin A). Karotenoid lainnya, seperti lycopene (tomat dan semangka), xanthopyl (kuning telur dan jagung), zeaxanthin (jagung), serta lutein, walaupun memiliki aktivitas untuk peningkatan kesehatan, bukan merupakan sumber vitamin A. (Anonim, 2008).
Vitamin A adalah salah satu zat gizi esensial yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh manusia. Untuk memperolehnya harus di ambil dari sumber diluar tubuh terutama dari sumber alam, seperti bahan sereal, umbi, biji-bijian, sayuran, buah-buahan, hewani dan bahan-bahan olahan lainnya.

3.1.3 Kebutuhan Vitamin A
Kebutuhan vitamin perhari adalah 5,000 IU (IU = International unit, satuan utk vitamin & mineral). Lebih baik konsumsi vitamin sedikit-sedikit dengan selang waktu 4-6 jam, hingga mencapai total dosis kebutuhan vitamin sehari.  Contoh: Wanita 60th, memiliki kebutuhan vitamin 1000mg per hari. Sebaiknya ia mengkonsumsi 250mg pagi, 250mg siang, 250mg sore, dan 250mg malam sebelum tidur (Arta, 2008).

3.1.4 Defisiensi Vitamin A
            Defisiensi vitamin A dapat terjadi karena jumlah vitamin A dalam diet tidak mencukupi, suatu penyakit yang mengakibatkan absorpsi vitamin A kurang baik, atau perubahan karoten menjadi vitamin A terganggu. Pengaruh defisiensi yang ringan disebut hipovitaminasis dan umumnya tidak menunjukkan gejala-gejala klinis. Pada defisiensi berat, tubuh mudah terkena infeksi dan infeksi menjalar ke mata dan merusak selaput bening (Astuti dan Gardjito, 1986). Apabila terjadi defisiensi vitamin A, penderita akan mengalami rabun senja dan katarak. Selain itu, penderita defisiensi vitamin A ini juga dapat mengalami infeksi saluran pernafasan, menurunnya daya tahan tubuh, dan kondisi kulit yang kurang sehat (RidwanAZ, 2010).
Pada orang dewasa yang kekurangan vitamin A dalam waktu relatif lama akan terjadi beberapa kelainan seperti anemia (kurang darah), kesulitan membedakan warna (buta warna), kemunduran penciuman/rasa terhadap makanan dan akan kehilangan keseimbangan vestibular (Tarmizi, 2011).

3.1.5 Hipervitaminosis A
            Kelebihan vitamin A tidak dibuang melalui urine akan tetapi disimpan dalam sel-sel adiposa jaringan lemak karena vitamin A merupakan salah satu vitamin yang larut dalam lemak. Beberapa gejala hipervitaminosis A meliputi kulit kering dan mengelupas, pusing, nausia, apatis. Pada anak-anak gejalanya disertai muntah, drawaineas, bulging of the frontanelle. Hipervitaminosis A dapat menyebabkan rontoknya rambut (Astuti dan Gardjito, 1986). Kelebihan asupan vitamin A dapat menyebabkan keracunan pada tubuh. Bila sudah dalam kondisi akut, kelebihan vitamin A di dalam tubuh juga dapat menyebabkan kerabunan, terhambatnya pertumbuhan tubuh, pembengkakan hati, dan iritasi kulit (RidwanAZ, 2010).

3.2  Vitamin D
            Vitamin D merupakan vitamin yang dapat diperoleh dari makanan atau diproduksi dari kulit manusia yang terkena sinar matahari pagi dan sangat berperan penting dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia. Karena dapat disintesis didalam tubuh, vitamin D dapat dikatakan bukan vitamin, tapi suatu prohormon (Almatsier, Tanpa tahun). Terdapat dua bentuk vitamin D yang penting bagi manusia, yaitu vitamin D2 dan vitamin D3. Vitamin D2 dan D3 larut dalam lemak dan pelarutnya tidak larut dalam air, stabil terhadap panas, asam, alkali, dan oksidasi (Astuti dan Gardjito, 1986).

3.2.1        Fungsi Vitamin D
Vitamin D membantu tulang dan otot tumbuh menjadi kuat dan sehat. Fungsi vitamin D sangatlah penting dalam proses pengaturan kalsium dan fosfor dalam tubuh.
1.      Membantu absorpsi Ca dan P dari usus.
2.      Mengatur metabolisme Ca dan P dalam tulang.
3.      Menjaga keseimbangan perbandingan Ca dan P dalam darah. Bila perbandingan Ca dan P dalam darah tetap, pembentukan tulang akan berjalan normal tanpa gangguan.
4.      Mencegah terlalu banyaknya Ca dan P yang keluar bersama urine dengan cara reabsorpsi ke dalam ginjal. 
Di dalam tubuh, vitamin D dapat membentuk struktur tulang dan gigi yang kuat.  Di dalam tubuh, vitamin D diserap di usus dengan bantuan senyawa garam empedu. Setelah diserap, vitamin ini kemudian akan disimpan di jaringan lemak (adiposa) dalam bentuk yang tidak aktif. Tanpa vitamin D yang cukup, tubuh kita tidak akan mampu menyerap kalsium dengan baik sehingga memiliki tulang yang lemah. Vitamin D adalah pro-hormon yang digunakan tubuh kita untuk mengangkut kalsium dari pencernaan melalui darah menuju ke tulang, jantung, otak, paru-paru dan organ lain yang memerlukannya (Anonim, 2011)..

3.2.2        Kebutuhan Vitamin D
Untuk mencegah penyakit Inggris (Rickets), absorpsi Ca dalam usus cukup, kecepatan pertumbuhan normal dan mineralisasi tulang berjalan normal pada bayi, asupan vitamin D sekitar 300-400 mg/hari. Untuk dapat hidup sehat baik pada bayi, anak-anak maupun dewasa sebaiknya dalam diet mengandung 400 mg vitamin D setiap hari.

3.2.3        Sumber Vitamin D
              Vitamin D  merupakan salah satu jenis vitamin yang banyak ditemukan pada makanan hewani, antara lain ikan, telur, susu, serta produk olahannya, seperti keju (RidwanAZ, 2010). Sinar ultraviolet dari sinar matahari merupakan sumber vitamin D yang sangat murah. Susu merupakan makanan yang dipilih untuk difortifikasi dengan vitamin D (Astuti dan Gardjito, 1986). Cara termudah untuk mendapatkan vitamin D dari cahaya matahari. Sinar UV bereaksi dengan sel kulit untuk memproduksi vitamin. Dianjurkan setiap orang untuk mendapatkan cahaya sinar matahari selama 15 menit, 2–3 kali per minggu. Pastikan sebanyak mungkin bagian tubuh terpapar sinar matahari. Hal ini untuk meningkatkan penyerapan vitamin D oleh kulit (Teddy, 2010).

3.2.4        Defisiensi Vitamin D
Kekurangan vitamin D ini dapat disebabkan oleh pemaparan sinar matahari yang tidak mencukupi maupun oleh sedikitnya vitamin D dalam makanan. Kekurangan vitamin D selama kehamilan dapat menyebabkan osteomalacia pada ibu hamil dan rakitis pada bayi yang akan dilahirkannya. Karena ASI tidak mengandung vitamin D dalam jumlah yang besar, bayi yang mendapatkan ASI bisa menderita rakitis, bahkan meskipun tinggal di daerah tropis jika bayi tidak mendapatkan sinar matahari yang cukup. Kekurangan vitamin D bisa terjadi pada orang yang lebih tua karena kulit mereka menghasilkan sedikit vitamin D saat terpapar sinar matahari (Nurcahyo, Tanpa tahun). 
Kejang otot (tetani) yang disebabkan oleh rendahnya kadar kalsium bisa merupakan pertanda awal terjadinya rakitis pada bayi. Bayi yang lebih besar mungkin akan terlambat untuk belajar duduk dan merangkak, dan penutupan ubun-ubun (fontanel) mengalami penundaan. Anak-anak usia 1- 4 tahun bisa memiliki kelainan lengkung tulang belakang, kaki O (bengkok ke dalam), kaki X (bengkok ke luar) dan terlambat berjalan. Anak-anak yang lebih tua atau remaja, akan merasakan nyeri bila berjalan. Tulang panggul yang mendatar pada remaja putri menyebabkan jalan lahir menjadi sempit. Pada orang dewasa kehilangan kalsium dari tulang, terutama tulang belakang, panggul dan tungkai, menyebabkan kelemahan dan bisa mengakibatkan terjadinya patah tulang (Nurcahyo, tanpa tahun).


3.2.5        Hipervitaminosis D
Vitamin D termasuk vitamin yang larut dalam lemak, dan sangat diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan secara umum. Tapi karena vitamin ini larut dalam lemak dan disimpan dalam sel-sel lemak tubuh, vitamin ini bisa menjadi racun jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih.
Mengkonsumsi vitamin D sebanyak 10 kali dosis harian yang dianjurkan, selama beberapa bulan, bisa menyebabkan keracunan, yang mengakibatkan tingginya kadar kalsium dalam darah. Gejala pertama dari keracunan vitamin D adalah hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, yang diikuti rasa haus yang luar biasa, meningkatnya frekuensi berkemih, kelemahan, gelisah dan tekanan darah tinggi. Kalsium bisa diendapkan di seluruh tubuh, terutama di ginjal, dimana bisa menyebabkan kerusakan menetap. Fungsi ginjal akan terganggu, menyebabkan protein dibuang dalam air kemih dan kadar urea dalam darah meningkat (Nurcahyo, tanpa tahun).

3.3  Vitamin E
Vitamin E pertama kali diisolasi pada tahun 1936 dari minyak tepung gandum. Disebut vitamin E karena ditemukan setelah vitamin-vitamin yang sudah ada yaitu A, B, C, dan D. Bentuk vitamin E merupakan kombinasi dari delapan molekul yang sangat rumit yang disebut ’tocopherol’. Tocopherol tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak seperti minyak, lemak, alkohol, aseton, eter dan sebagainya. Karena tidak larut dalam air, vitamin E dalam tubuh hanya dapat dicerna dalam empedu hati (Shella, 2009).
Vitamin E stabil pada pemanasan namun akan rusak bila pemanasan terlalu tinggi. Vitamin E bersifat basa jika tidak ada oksigen dan tidak terpengaruh oleh asam pada suhu 100o C. Bila terkena oksigen di udara, akan teroksidasi secara perlahan-lahan. Sedangkan bila terkena cahaya warnanya akan menjadi gelap secara bertahap (Shella, 2009).
Vitamin E merupakan komponen yang terdapat dalam tanaman dan hewan yaitu tokoferol dan tokotrienol. Ada 4 jenis tokoferol, tetapi yang berperan sebagai vitamin E adalah tokoferol. Vitamin E larut dalam lemak, tidak larut dalam air, stabil terhadap panas, asam maupun sinar visibel. Tokoperol tidak stabil terhadap alkali, sinar ultra violet dan oksigen. Semua tokoperol adalah antioksidan artinya bahwa baik di dalam maupun di luar tubuh berikatan dengan oksigen (Astuti dan Gardjito, 1986).

3.3.1        Fungsi vitamin E
Vitamin E berguna untuk:
·         Vitamin E membantu menyehatkan sistem kekebalan tubuh, serta membantu proses perbaikan DNA.
·         Berguna untuk pembuatan sel tubuh, mencegah pendarahan dan membantu pembentukan hormon pertumbuhan.
·         Vitamin E menjaga stabilitas dan integritas membran biologis.
·         Mencegah degenerasi otot maupun susunan saraf pusat sehingga kelumpuhan dapat dihindari.

3.3.2        Sumber vitamin E
            Vitamin E mudah didapat dari bagian bahan makanan yang berminyak atau sayuran. Vitamin E banyak terdapat pada buah-buahan, susu, mentega, telur, sayur-sayuran, terutama kecambah. Contoh sayuran yang paling banyak mengandung vitamin E adalah minyak biji gandum, minyak kedelai, minyak jagung, selada, kacang-kacangan, asparagus, pisang, strawberri, biji bunga matahari, buncis, ubi jalar, bayam, brokoli, kiwi, mangga dan sayuran berwarna hijau lainnya. Vitamin E lebih banyak terdapat pada makanan segar yang belum diolah (Shella, 2009).
Satu unit setara dengan 1 mg alfa-tocopherol asetat atau dapat dianggap setara dengan 1 mg. Selain itu ASI juga banyak mengandung vitamin E untuk memenuhi kebutuhan bayi. Dalam perkembangannya, Vitamin E diproduksi dalam bentuk pil, kapsul, dan lain-lain sebagaimana vitamin-vitamin yang sudah terlebih dahulu ada. Vitamin yang sudah dikemas dalam berbagai bentuk ini banyak dijual bebas di pasaran serta dianggap berguna (Shella, 2009).
Vitamin E banyak didistribusi dalam makanan, sehingga kemungkinan kekurangan Vitamin E sangatlah kecil. Vitamin E banyak sekali terkandung dalam:
1. Ubi jalar sebanyak 4,00 miligram/100gram bahan segar
2. Kacang Polong sebesar 2,10 miligram/100gram
3. Nasi merah sebesar 2,40 miligram/100gram
4. Minyak kacang sebesar 22,0 miligram/100gram
5. Minyak kedele sebesar 140 miligram/100gram
6. Minuak jagung sebesar 87 miligram/100gram
7. Daging ayam sebesar 0,25 miligram/100gram 
8. Daging sapi sebesar 1,40 miligram/100gram
9. Daging domba sebesar 0,77 miligram/100gram

3.3.3        Kebutuhan vitamin E
Kebutuhan minimum vitamin E untuk orang dewasa tidak diketahui secara pasti, mungkin tidak diketahui secara pasti, mungkin antara 3-6 IU per hari. Anjuran intake tokoperol untuk bayi yang lahir dengan berat kurang adalah 3 mg atau 4,5 IU; tokoperol per lt formula yang mengandung 3,5 % lemak (jenuh dan tidak jenuh). ASI mengandung vitamin E yang cukup jumlahnya bagi bayi berumur dibawah 5 bulan dan lebih dari 5 bulan. Vitamin E tidak hanya doiperoleh dari ASI tetapi juga dari makanan lain (Astuti dan Gardjito, 1986).
Bila Anda menginginkan fungsi vitamin E sebagai antioksidan, maka seorang perempuan membutuhkan sedikitnya 120 IU (international unit) per hari. Namun menurut catatan medis, kebanyakan perempuan Indonesia hanya makanan yang mengandung 10.4 - 13,4 IU per hari. Untuk mencukupi kebutuhan itu, kita bisa mengonsumsi vitamin E dan vitamin E sintetis (dl-a tokoferol). Karena kebutuhan vitamin E kita terbatas, maka tubuh akan segera bereaksi ketika mengalami kondisi tidak berimbang. Gejala yang terlihat nyaris berbeda, namun cenderung samar sehingga bisa jadi sulit dipahami (Shella, 2009).
Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, pastikan Anda (yang berusia 14 ke atas) mendapatkan asupan 15 miligram atau 22.5 internasional unit (IU) per hari. Tapi, pastikan juga kalau asupan vitamin E Anda tidak lebih dari 1.000 miligram (1.500 IU) per hari. Hal ini untuk mencegah keracunan. Tapi, sebagian besar orang justru kesulitan memenuhi asupan vitamin E yang direkomendasikan. Jadi, kalau tidak menggunakan suplemen dalam dosis sangat besar, kemungkinan besar Anda tidak akan mencapai batas maksimum ini. 20 IU alami atau 30 IU sintetik (<28th), 50 IU (28-40th), 100 IU (>40th) per hari (Arta, 2008).
Salah satu cara menunda penuaan di kulit adalah dengan mengonsumsi vitamin E. Vitamin E merupakan antioksidan terkuat yang mampu mencegah kerusakan serat kolagen dan elastin dari akibat radikal bebas, dan meningkatkan proses regenerasi dan keratinisasi sel-sel kulit. Hasilnya, kulit kita tidak tipis dan kering karena kandungan air tidak menguap dari kulit. Kulit terjaga elastisitasnya, dan tidak cepat keriput.

Dari makanan dan suplemen
Satu kapsul Natur-E mengandung 100 IU vitamin E alamiah yang terbuat dari ekstrak biji gandum dan esktrak minyak bunga matahari. Jumlah ini (satu kapsul sehari), sudah mencukupi kebutuhan kulit wanita. Berbeda jika kita tidak mengkonsumsi suplemen.
            Vitamin E juga bisa kita peroleh dari bahan makanan, seperti kacang-kacangan, mangga, brokoli, buah kiwi, atau bayam. Namun kandungan vitamin E yang masuk dari makanan hanya sebesar 10-15 IU saja. Jumlah itu hanya mampu mencukupi kebutuhan gizi harian, bukan kebutuhan kulit.
            Vitamin E sendiri bisa dikonsumsi oleh perempuan mulai usia 17 tahun. Untuk setiap tingkatan usia, dosis yang dibutuhkan juga berbeda. Perempuan usia 17-25 tahun membutuhkan 1 soft kapsul vitamin E (100 IU), 2 kapsul untuk usia 25-35 tahun, dan 3 kapsul untuk usia di atas 35 tahun.

3.3.4        Defisiensi Vitamin E
Gejala kekurangan:
·      Ketika kadar vitamin E dalam darah sangat rendah, sel darah merah rusak dan terbelah. Proses pembelahan sel darah merah ini disebut hemolisis eritrodit. Kondisi ini menyebabkan gangguan pada sistem syaraf dan otot. Gejala yang dirasakan adalah kesulitan berjalan dan nyeri yang menetap pada otot betis.
·      Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan sel-sel cepat rusak sehingga mempercepat proses penuaan kulit, kerusakan saraf penggerak, kelemahan otot, serta melemahnya kelenjar gondok dan hipofisis.
·      Orang yang menderita penyakit tertentu, misalnya penyakit hati atau celiac disease, atau yang melakukan diet lemak terlalu rendah bisa jadi akan mengalami kekurangan vitamin E.
·      Kekurangan vitamin E dapat berkembang menjadi berbagai masalah kesehatan lain seperti neuropati perifer, masalah penglihatan, malnutrisi karena pencernaan yang jelek, atau aritmia jantung.
·      Obat-obatan tertentu dan beberapa vitamin lain dapat mengganggu penyerapan vitamin E. Jika vitamin E diperoleh dari sumber makanan alami, maka risiko overdosis tidak akan terjadi.
·      Bayi prematur memiliki cadangan vitamin E yang sangat sedikit dan bisa menderita kekurangan vitamin E bila diberi makanan yang banyak mengandung lemak tak jenuh dan sedikit mengandung vitamin E. Lemak tak jenuh merupakan prooksidan bahan-bahan yang mudah teroksidasi menjadi radikal bebas), yang merupakan lawan vitamin E dan bisa menyebabkan pecahnya sel darah merah (hemolisa).

3.3.5        Hipervitaminasis E
·      Keracunan dapat terjadi jika mengonsumsi vitamin E secara berlebih. Anda akan merasakan sakit kepala, lemah dan selalu lelah, serta pusing yang disertai gangguan penglihatan.
·      Wanita hamil, atau bahkan yang baru hamil sebaiknya memeriksa dosis asupan vitamin E dalam tubuh mereka. Pasalnya asupan vitamin E yang terlalu tinggi pada awal kehamilan dapat menyebabkan resiko bayi lahir dengan gangguan hati (demikian yang disampaikan tim peneliti asal Belanda).
·      Kelebihan vitamin E akan disimpan di dalam hati.
·      Hasil penelitian menunjukkan, mereka yang mengkonsumsi vitamin E dosis tinggi beresiko hingga 70 persen memiliki bayi dengan kelainan hati, dibandingkan yang mengkonsumsi vitamin E lebih rendah.
·      Sementara, pola diet dengan asupan vitamin E tinggi disertai dengan suplemen yang mengandung vitamin E meningkatkan resiko kelainan hati sejak lahir sebesar 5 hingga 9 kali lipat.
·      Vitamin E dosis tinggi yang diberikan kepada bayi prematur untuk mengurangi resiko terjadinya retinopati, tampaknya tidak memperlihatkan efek samping yang berarti. Pada orang dewasa, vitamin E dosis tinggi hampir tidak menimbulkan efek samping, kecuali meningkatnya kebutuhan akan vitamin K, yang bisa menyebabkan perdarahan pada orang-orang yang mengkonsumsi obat antikoagulan.

3.4 Vitamin K
Vitamin K dikenal sebagai vitamin anti pendarahan (anti hemorrhagic); berada dalam dua bentuk yaitu vitamin K1 atau disebut phyloquinon terdapat dalam makanan terutama sayuran dan K2 atau menaquinon, aktivitasnya ¾ nya vitamin K1 berasal dari usus manusia. Vitamin ini disintesa oleh bakteri dalam usus. Kedua bentuk vitamin K tidak larut dalam air, larut dalam lemak, stabil terhadap panas dan senyawa pereduksi, tetapi sangat labil dengan asam kuat, senyawa pengoksidasi, sinar, dan alkali alkaholik. Vitamin K yang dibuat secara sintetis bersifat larut dalam air dan dipergunakan sebagai obat (Astuti dan Gardjito, 1986).
Kebanyakan sumber vitamin K di dalam tubuh adalah hasil sintesis oleh bakteri di dalam sistem pencernaan. Sumber vitamin K dalam makanan adalah hati, sayur-sayuran berwarna hijau yang berdaun banyak, sayuran sejenis kobis (kol) dan susu (Ridwanaz, 2010).

3.4.1        Fungsi Vitamin K
·        Vitamin K diperlukan untuk sintesa protrombin yang digunakan untuk membekukan darah.
·        Vitamin K juga dibutuhkan untuk pembentukan tulang.
·        Berguna untuk menguatkan pegangan rambut pada kulit.
·         Vitamin K digunakan untuk mata lebih bersinar, hal ini
banyak ditemukan di krim mata yang juga mengandung retinol. Vitamin K dipercaya bisa membantu mengatasi lingkar mata hitam. Pembuluh kapiler yang rentan dan bocor di sekitar daerah mata sering diakui sebagai penyebab hitamnya daerah di sekitar mata.
·         Vitamin K, yang dikenal juga sebagai phytonadione, bisa membantu mengontrol aliran darah.
·         Vitamin K juga berperan penting dalam pemeliharaan ginjal.

3.4.2        Sumber vitamin K
Untuk memenuhi kebutuhan vitamin K terbilang cukup mudah karena selain jumlahnya  terbilang kecil,  sistem pencernaan manusia sudah mengandung bakteri yang mampu mensintesis vitamin K, yang sebagian diserap dan disimpan di dalam hati.  Namun begitu,  tubuh masih perlu mendapat tambahan vitamin K dari makanan.
Meskipun kebanyakan sumber vitamin K di dalam tubuh adalah hasil sintesis oleh bakteri di dalam sistem pencernaan, namun Vitamin K juga terkandung dalam makanan,  seperti hati, sayur-sayuran berwarna hijau yang berdaun banyak dan sayuran sejenis kobis (kol) dan susu. Vitamin K dalam konsentrasi tinggi juga ditemukan pada susu kedele, teh hijau, susu sapi, serta daging sapi dan hati. Jenis-jenis makanan probiotik, seperti yoghurt yang mengandung bakteri sehat aktif, bisa membantu menstimulasi produksi vitamin ini.
Sistem pencernaan dari manusia mengandung bakteri yang dapat mensintesis vitamin K, yang sebagian diserap dan disimpan di dalam hati. Tubuh perlu mendapat tambahan vitamin K dari makanan. Vitamin K dapat dihasilkan oleh tubuh kita sendiri di dalam usus besar dengan bantuan bakteri Escherichia coli. Sedangkan dalam bentuk provitamin K bisa kita jumpai pada sayuran hijau, kedelai, kuning telur dan susu.

3.4.3        Kebutuhan Vitamin K
Kebutuhan vitamin K tiap hari belum ditetapkan.
 
3.4.4        Defisiensi Vitamin K
Gejala Kekurangan:
Bayi yang lahir prematur dan agak sukar menerima makanan, ada kecenderungan mengalami defisiensi vitamin K. Beberapa kejadian neonatal hemarrage pada bayi yang baru lahir, dengan memberikan vitamin K setela lahir dapat mencegah pendarahan tersebut. Defisiensi pada orang dewasa dapat terjadi karena obat-obatan antibiotik ada yang menghambat sintesa vitamin K di dalam usus. Diare yang kronis dan intake minyak mineral juga dapat mengakibatkan defisiensi vitamin K. Kemampuan hati untuk menyimpan vitamin K sangat terbatas (Astuti dan Gardjito, 1986).
Jika vitamin K tidak terdapat dalam tubuh, darah tidak dapat membeku. Hal ini dapat meyebabkan penyakit hemoragik. Bagaimanapun, jarang terjadi kekurangan vitamin K, hanya bayi yang mudah mengalami hal tersebut. Hal ini karena sistem pencernaan bayi yang baru lahir masih steril dan tidak mengandung bakteri yang dapat mensintesis vitamin K, air susu ibu mengandung hanya sejumlah kecil vitamin K. Untuk itu bayi diberi sejumlah vitamin K saat lahir. Kekurangan vitamin K dapat menyebabkan darah sukar berhenti jika terjadi luka, usus cepat rusak, dan rambut mudah rontok (Asidharta, 2009).

3.4.5        Hipervitaminosis K
Gejala Kelebihan
·      Keracunan vitamin K terjadi hanya pada orang yang menerima pengganti vitamin K larut air. Gejala-gejalanya adalah hemolisis sel darah merah, penyakit kuning dan kerusakan otak.
·      Kelebihan vitamin K akan disimpan di dinding usus besar.

3.5      Vitamin B
Secara umum, golongan vitamin B berperan penting dalam metabolisme di dalam tubuh, terutama dalam hal pelepasan energi saat beraktivitas. Hal ini terkait dengan peranannya di dalam tubuh, yaitu sebagai senyawa koenzim yang dapat meningkatkan laju reaksi metabolisme tubuh terhadap berbagai jenis sumber energi. Beberapa jenis vitamin yang tergolong dalam kelompok vitamin B ini juga berperan dalam pembentukan sel darah merah (eritrosit). Sumber utama vitamin B berasal dari susu, gandum, ikan, dan sayur-sayuran hijau.
Vitamin B terdiri dari beberapa jenis, yang semuanya disebut dengan vitamin B kompleks. Diantaranya adalah sebagai berikut:
a.    Vitamin B1
Vitamin B1, yang dikenal juga dengan nama tiamin, merupakan salah satu jenis vitamin yang memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan membantu mengkonversi karbohidrat menjadi energi yang diperlukan tubuh untuk rutinitas sehari-hari. Di samping itu, vitamin B1 juga membantu proses metabolisme protein dan lemak. Bila terjadi defisiensi vitamin B1, kulit akan mengalami berbagai gangguan, seperti kulit kering dan bersisik. Tubuh juga dapat mengalami beri-beri, gangguan saluran pencernaan, jantung, dan sistem saraf. Untuk mencegah hal tersebut, kita perlu banyak mengkonsumsi banyak gandum, nasi, daging, susu, telur, dan tanaman kacang-kacangan. Bahan makanan inilah yang telah terbukti banyak mengandung vitamin B1.
b.   Vitamin B2
Vitamin B2 (riboflavin) banyak berperan penting dalam metabolisme di tubuh manusia. Di dalam tubuh, vitamin B2 berperan sebagai salah satu kompenen koenzim flavin mononukleotida (flavin mononucleotide, FMN) dan flavin adenine dinukleotida (adenine dinucleotide, FAD). Kedua enzim ini berperan penting dalam regenerasi energi bagi tubuh melalui proses respirasi. Vitamin ini juga berperan dalam pembentukan molekul steroid, sel darah merah, dan glikogen, serta menyokong pertumbuhan berbagai organ tubuh, seperti kulit, rambut, dan kuku. Sumber vitamin B2 banyak ditemukan pada sayur-sayuran segar, kacang kedelai, kuning telur, dan susu. Defisiensinya dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh, kulit kering bersisik, mulut kering, bibir pecah-pecah, dan sariawan.
c.    Vitamin B3
Vitamin B3 juga dikenal dengan istilah niasin. Vitamin ini berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi, metabolisme lemak, dan protein. Di dalam tubuh, vitamin B3 memiliki peranan besar dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah tinggi, penyembuhan migrain, dan vertigo. Berbagai jenis senyawa racun dapat dinetralisir dengan bantuan vitamin ini. Vitamin B3 termasuk salah satu jenis vitamin yang banyak ditemukan pada makanan hewani, seperti ragi, hati, ginjal, daging unggas, dan ikan. Akan tetapi, terdapat beberapa sumber pangan lainnya yang juga mengandung vitamin ini dalam kadar tinggi, antara lain gandum dan kentang manis. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan tubuh mengalami kekejangan, keram otot, gangguan sistem pencernaan, muntah-muntah, dan mual.
d.   Vitamin B5
Vitamin B5 (asam pantotenat) banyak terlibat dalam reaksi enzimatik di dalam tubuh. Hal ini menyebabkan vitamin B5 berperan besar dalam berbagai jenis metabolisme, seperti dalam reaksi pemecahan nutrisi makanan, terutama lemak. Peranan lain vitamin ini adalah menjaga komunikasi yang baik antara sistem saraf pusat dan otak dan memproduksi senyawa asam lemak, sterol, neurotransmiter, dan hormon tubuh. Vitamin B5 dapat ditemukan dalam berbagai jenis variasi makanan hewani, mulai dari daging, susu, ginjal, dan hati hingga makanan nabati, seperti sayuran hijau dan kacang hijau. Seperti halnya vitamin B1 dan B2, defisiensi vitamin B5 dapat menyebabkan kulit pecah-pecah dan bersisik. Selain itu, gangguan lain yang akan diderita adalah keram otot serta kesulitan untuk tidur.
e.    Vitamin B6
Vitamin B6, atau dikenal juga dengan istilah piridoksin, merupakan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan tubuh. Vitamin ini berperan sebagai salah satu senyawa koenzim A yang digunakan tubuh untuk menghasilkan energi melalui jalur sintesis asam lemak, seperti spingolipid dan fosfolipid. Selain itu, vitamin ini juga berperan dalam metabolisme nutrisi dan memproduksi antibodi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap antigen atau senyawa asing yang berbahaya bagi tubuh. Vitamin ini merupakan salah satu jenis vitamin yang mudah didapatkan karena vitamin ini banyak terdapat di dalam beras, jagung, kacang-kacangan, daging, dan ikan. Kekurangan vitamin dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kulit pecah-pecah, keram otot, dan insomnia.

f.     Vitamin B12
Vitamin B12 atau sianokobalamin merupakan jenis vitamin yang hanya khusus diproduksi oleh hewan dan tidak ditemukan pada tanaman. Oleh karena itu, vegetarian sering kali mengalami gangguan kesehatan tubuh akibat kekurangan vitamin ini. Vitamin ini banyak berperan dalam metabolisme energi di dalam tubuh. Vitamin B12 juga termasuk dalam salah satu jenis vitamin yang berperan dalam pemeliharaan kesehatan sel saraf, pembentukkan molekul DNA dan RNA, pembentukkan platelet darah. Telur, hati, dan daging merupakan sumber makanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12. Kekurangan vitamin ini akan menyebabkan anemia (kekurangan darah), mudah lelah lesu, dan iritasi kulit.

3.5.1        Fungsi Vitamin B
a.    Vitamin B1
Berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan membantu mengkonversi karbohidrat menjadi energi yang diperlukan tubuh untuk rutinitas sehari-hari
b.   Vitamin B2
Berperan dalam pembentukan molekul steroid, sel darah merah, dan glikogen, serta menyokong pertumbuhan berbagai organ tubuh, seperti kulit, rambut, dan kuku.
c.    Vitamin B3
Vitamin B3 memiliki peranan besar dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah tinggi, penyembuhan migrain, dan vertigo.
d.   Vitamin B5
Peranan lain vitamin ini adalah menjaga komunikasi yang baik antara sistem saraf pusat dan otak dan memproduksi senyawa asam lemak, sterol, neurotransmiter, dan hormon tubuh.
e.       Vitamin B6
Vitamin ini berperan sebagai salah satu senyawa koenzim A yang digunakan tubuh untuk menghasilkan energi melalui jalur sintesis asam lemak, seperti spingolipid dan fosfolipid. Selain itu, vitamin ini juga berperan dalam metabolisme nutrisi dan memproduksi antibodi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap antigen atau senyawa asing yang berbahaya bagi tubuh.
f.       Vitamin B12
Vitamin ini banyak berperan dalam metabolisme energi di dalam tubuh.

3.5.2        Kebutuhan Vitamin B
a.        Vitamin B1
RDA untuk thiamin adalah 0,5 mg/1000 kkal perhari. Diperkirakan konsumsi rata-rata makanan per hari sekitar 2000 kkal/orang, jadi RDA untuk thiamin sekitar 1 mg perhari. Makanan yang seimbang akan memberikan cukup thiamin. Orang yang berpuasa atau melakukan diet harus memastikan bahwa mereka mendapat sejumlah thiamin yang sama seperti dalam 2000 kkalori makanan.


b.      Vitamin B2
RDA untuk riboflavin adalah 0,6 mg/1000 kkal perhari. Jadi sekitar 1,2 mg perhari untuk 2000 kkal diet. Anak-anak dan wanita hamil membutuhkan tambahan riboflavin karena vitamin ini penting untuk pertumbuhan.
c.       Vitamin B3
RDA untuk niacin adalah 6,6 mg NE (niacin equivalents)/ 1000 kkal, atau 13 mg perhari. NE merupakan jumlah niasin yang diperoleh dalam makanan, termasuk niacin yang secara teori dibuat dari prekusor asam amino triptophan. 60 mg triptophan dapat menghasilkan 1 mg niacin.
d.      Vitamin B5
Tidak ada RDA untuk asam pantotenat. Diperkirakan konsumsi yang aman dan cukup adalah antara 4 sampai 7 mg perhari.
e.       Vitamin B6
Koenzim vitamin B6 berperan penting dalam metabolisme asam amino, sehingga konsumsi sehari-hari harus sebanding dengan konsumsi protein, karena protein dibuat dari asam amino. RDA untuk vitamin B6 adalah 0,16 mg/g protein. Rata-rata konsumsi adalah 2 mg/hari untuk pria dan 1,6 mg/hari untuk wanita.
f.       Vitamin B12
RDA untuk vitamin B12 adalah sekitar 2 mikro-gram perhari.




3.5.3        Sumber Vitamin B
a.        Vitamin B1
Sumber yang mengandung vitamin B1 adalah gandum, daging, susu, kacang hijau, ragi, beras, telur, dan sebagainya
b.        Vitamin B2
Sumber yang mengandung vitamin B2 adalah sayur-sayuran segar, kacang kedelai, kuning telur, susu, dan banyak lagi lainnya.
c.         Vitamin B3
Sumber yang mengandung vitamin B3 adalah buah-buahan, gandum, ragi, hati, ikan, ginjal, kentang manis, daging unggas dan sebagainya
d.        Vitamin B5
Sumber yang mengandung vitamin B5 adalah daging, susu, sayur mayur hijau, ginjal, hati, kacang ijo, dan banyak lagi yang lain
e.         Vitamin B6
Sumber yang mengandung vitamin B6 = kacang-kacangan, jagung, beras, hati, ikan, beras tumbuk, ragi, daging, dan lain-lain.
f.         Vitamin B12
Sumber yang mengandung vitamin B12 adalah telur, hati, daging, dan lainnya

3.5.4 Defisiensi Vitamin B
a.      Vitamin B1
Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B1 = kulit kering/kusik/busik, kulit bersisik, daya tahan tubuh berkurang.

b.      Vitamin B2
Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B2 = turunnya daya tahan tubuh, kilit kering bersisik, mulut kering, bibir pecah-pecah, sariawan, dan sebagainya.
c.       Vitamin B3
Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B3 = terganggunya sistem pencernaan, otot mudah keram dan kejang, insomnia, bedan lemas, mudah muntah dan mual-mual, dan lain-lain
d.      Vitamin B5
Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B5 = otot mudah menjadi kram, sulit tidur, kulit pecah-pecah dan bersisik, dan lain-lain
e.       Vitamin B6
Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B6 = pelagra alias kulit pecah-pecah, keram pada otot, insomnia atau sulit tidur, dan banyak lagi lainnya.
f.       Vitamin B12
Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B12 = kurang darah atau anemia, gampang capek/lelah/lesu/lemes/lemas, penyakit pada kulit, dan sebagainya

3.6 Vitamin C
Vitamin C (asam askorbat) banyak memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Di dalam tubuh, vitamin C juga berperan sebagai senyawa pembentuk kolagen yang merupakan protein penting penyusun jaringan kulit, sendi, tulang, dan jaringan penyokong lainnya. Vitamin C merupakan senyawa antioksidan alami yang dapat menangkal berbagai radikal bebas dari polusi di sekitar lingkungan kita. Terkait dengan sifatnya yang mampu menangkal radikal bebas, vitamin C dapat membantu menurunkan laju mutasi dalam tubuh sehingga risiko timbulnya berbagai penyakit degenaratif, seperti kanker, dapat diturunkan. Selain itu, vitamin C berperan dalam menjaga bentuk dan struktur dari berbagai jaringan di dalam tubuh, seperti otot. Vitamin ini juga berperan dalam penutupan luka saat terjadi pendarahan dan memberikan perlindungan lebih dari infeksi mikroorganisme patogen. Melalui mekanisme inilah vitamin C berperan dalam menjaga kebugaran tubuh dan membantu mencegah berbagai jenis penyakit. Defisiensi vitamin C juga dapat menyebabkan gusi berdarah dan nyeri pada persendian. Akumulasi vitamin C yang berlebihan di dalam tubuh dapat menyebabkan batu ginjal, gangguan saluran pencernaan, dan rusaknya sel darah merah.

3.6.1        Fungsi Vitamin C
Fungsi vitamin C banyak sekali,mencapai 300 fungsi,fungsi dasarnya meningkatkan daya tahan tubuh dari serangan penyakit,dan membantu penyembuhan tubuh.fungsi utama dari vitamin C sebagai antioksidan yaitu menetralkan racun dan radikal bebas dalam darah maupun cairan sel tubuh.dengan cara ini peran vitamin c mencegah terjadinya oksidasi kolesterol LDL dan mencegah tersumbatnya pembuluh darah sehingga tidak menyebabkan hypenrtensi dan penyakit jantung.juga menjaga kesehatan paru-paru karena menetralkan radikal bebas yang masuk melalui pernafasan.
Vitamin c juga meningkatkan sel-sel darah putih yang dapat melawan infeksi sehingga flu sembuh lebih cepat,membantu mengaktifkan asam folat,meningkatkan penyerapan zat besi sehingga mencegah anemia,meregenerasi vitamin E sehingga bisa dipakai lagi sebagai anti-oksidan.Vitamin c ada yang alami juga ada yang sintetik.asal keduanya berbentuk L-ascorbic acid dan tidak memiliki perbedaan kinerja pada keduanya.

3.6.2        Kebutuhan Vitamin C
RDA untuk vitamin C adalah 60 mg/hari, tapi hal ini bervariasi pada setiap individu. Stres fisik seperti luka bakar, infeksi, keracunan logam berat, rokok, penggunaan terus-menerus obat-obatan tertentu (termasuk aspirin, obat tidur) meningkatkan kebutuhan tubuh akan vitamin C. Perokok membutuhkan vitamin C sekitar 100 mg/hari.
Kebutuhan harian vitamin untuk masing-masing usia adalah:
Tingkatan
Usia
Laki-laki (mg/hari)
Perempuan (mg/hari)
Bayi
0-6 bulan
40
40
Anak-anak
1-3 tahun
15
15
Anak-anak
4-8 tahun
25
25
Anak-anak
9-13 tahun
45
45
Remaja
14-18 tahun
75
65
Dewasa
19 tahun ke atas
90
75
Wanita hamil
-
-
85

3.6.3        Sumber Vitamin C
Sumber yang mengandung vitamin C adalah jambu klutuk atau jambu batu, jeruk, tomat, nanas, sayur segar, dan lain sebagainya

3.6.4        Defisiensi Vitamin C
Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin C = mudah infeksi pada luka, gusi berdarah, rasa nyeri pada persendian, dan lain-lain.

 BAB IV
PENUTUP

Vitamin adalah sekelompok senyawa organik amina berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap organisme, yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh. Vitamin larut dalam air adalah vitamin yang hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh bagian tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera dibuang tubuh bersama urin. Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan asupan vitamin larut air secara terus-menerus.
Vitamin yang larut dalam air terdiri dari vitamin B dan vitamin C. Kedua vitamin ini diberi nama berdasarkan label dari tabung-tabung percobaan pada saat vitamin tersebut ditemukan. Selanjutnya diketahui bahwa tabung percobaan dengan vitamin B ternyata mengandung lebih dari satu vitamin, yang kemudian diberi nama B1, B2 dst. Kedelapan vitamin B berperan penting dalam membantu enzim untuk metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, dan dalam pembuatan DNA dan sel-sel baru.

 
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. Tanpa Tahun. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Anonim, 2008. Vitamin A lebih dari Sekadar Mencegah Kebutaan. (Online), (http://klipingut.wordpress.com/2008/01/05/vitamin-a-lebih-dari-sekadar-mencegah-kebutaan/ diakses 7 september 2011.

Anonim. 2011. Vitamin D.(Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Vitamin_D, diakses 9 September 2011.

Anonim. 2011. Vitamin E. (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Vitamin_E, diakses tanggal 6 September 2011)

Anonim. 2011. Vitamin. (online), (http://i.wikipedia.org/wiki/Vitamin, diakses 7 September 2011.

Arta, Katherine. 2008. Kebutuhan Vitamin Sehari. (Online), (http://katherinearta.wordpress.com/2008/02/07/kebutuhan-vitamin-sehari/ diakses 7 September 2011).

Asidharta. 2009. Vitamin K. (Online), (http://asidharta.blogspot.com/2009/04/vitamin-k.html, diakses tanggal 6 September 2011)

Astuti, M dan Gardjito, M. 1986. Pangan dan Gizi. Yogyakarta: UGM Press.

Ikatan dokter indonesia. 2010. Pengertian dan Definisi Vitamin - Fungsi, Guna, Sumber, Akibat Kekurangan, Macam dll. (online), (http://dranak.blogspot.com/2010/05/pengertian-dan-definisi-vitamin-fungsi.html, diakses 7 september 2011)

 

Nurcahyo. Tanpa tahun. Kekurangan, Kelebihan Vitamin D. (Online), (http://www.indonesiaindonesia.com/f/11128-kekurangan-kelebihan-vitamin-d/, diakses 9 September 2011.

RidwanAZ. 2010. Pengertian Vitamin, Jenis-jenis Vitamin, Sumber-sumber Vitamin. (Online), (http://www.ridwanaz.com/kesehatan/pengertian-vitamin-jenis-jenis-vitamin-sumber-sumber-vitamin/, diakses 7 September 2011).

Riwanaz. 2011. Pengertian vitamin, jenis-jenis vitamin, dan sumber vitamin. (online), (http://ridwanaz.com/kesehatan/pengertian-vitamin-jenis-jenis-vitamin-sumber-sumber-vitamin/ diakses 7 september 2011)

 

Shella. 2009. Vitamin E.(Online), (http://shella.blog.uns.ac.id/2009/04/28/vitamin-e/, diakses tanggal 6 September 2011)

Tarmizi. 2011. Menaksir Kebutuhan Vitamin. (online), (http://tarmiziblog.blogspot.com/2011/02/menaksir-kebutuhan-vitamin.html, diakses 7 September 2011.

Teddy, Mulya. 2010. Fungsi Vitamin D. (online), (http://teddy.blog.uns.ac.id/tag/fungsi-vitamin-d/, diakses 9 September 2011.





Thanks for reading & sharing Materi Seputar Kedokteran

Newest
You are reading the newest post

0 comments:

Post a Comment

KOMENTAR , KRITIK , & SARAN dipersilahkan :)

ads

About Us

menarik

Popular Posts